top of page

Three in One

Ign. Yoedi ( 2018 )

90 cm x 70 cm | Acrylic on Canvas

This painting illustrates the Kuda Lumping dance originating from Yogyakarta. This dance was originally a performance to reflect the fighting spirit and a symbol of the resistance of Prince Diponegoro's cavalry troops against Dutch colonialism. The movements in this dance reflect the spirit of heroism and military aspects of the cavalry force, seen in rhythmic, dynamic, and aggressive movements. Nevertheless, in its growth, this show contained spiritual elements. Apart from showing scenes of horsemen, this dance also often presents attractions such as trance, invulnerability, and magical powers, for instance, eating glass or becoming immune to being hit by a whip.


Lukisan Three in One ini menggambarkan tarian Kuda Lumping yang berasal dari Yogyakarta. Tarian kuda lumping awalnya merupakan sebuah pertunjukan untuk merefleksikan semangat juang serta simbol perlawanan pasukan berkuda Pangeran Diponegoro saat melawan penjajahan Belanda. Gerakan-gerakan dalam tarian ini mencerminkan semangat heroisme dan aspek militer dari sebuah pasukan berkuda atau kavaleri, terlihat dari gerakan yang ritmis, dinamis, dan agresif. Namun dalam perkembangannya, pertunjukan ini memasukkan unsur spiritual. Selain menampilkan adegan prajurit berkuda, tarian ini juga seringkali menyajikan atraksi seperti kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti memakan beling atau kebal terhadap deraan pecut.

Rp8,500,000

bottom of page