Paksi Naga Liman

Paksi Naga Liman

Artha Pararta Dharma, 2021

200 x 115 cm | Acrylic on Canvas

The people of the Keraton believe that the world is divided into three: the Upper World, the Middle World, and the Underworld. Paksi Naga Liman is a symbol of the power of these three parts of life.  


The Upper World, is symbolized by Paksi, which is a bird whose place of life is "above", this is a symbol of spiritual life, a transcendent life which is identical with divine conditions and piety in the realm of makrifat, which is also why Paksi was taken from Islamic culture, because the conditions Isra and Mi'raj Muhammad SAW, is a condition of makrifatullah which is the peak of his apostolate so that it reaches sidratul munthaha (seventh heaven), the symbol of the axis (wings, tail, spurs, and claws) found on the Paksi Naga Liman, is a symbol of the transcendent Upper World. , the world of attainment of closeness to the Creator.


While the figure of Liman, is a symbol of the Middle World, the material world, the physical world, or the everyday world where worldly things that are physical take place, that is also why the Middle World is identified with Hinduism culture, which indeed all of its teachings are grounded teachings. , regarding human behavior in this world regarding the importance of compassion, tepo saliro, love, and mutual respect like all other earthly religions. Liman is also a real creature, which is still alive today.


The dragon is a symbol of the underworld, the place where all things that are identical with the 'dark side' of humans, or the dark side of life, end. Dragons are in the spiritual realm as well as Paksi, but in the 'darkness' region, that's why the dragon figure always looks scary, with bulging eyes, drawn fangs, and sticking out tongues and sharp horns, this is a symbol of the dark side of humans, such as sin, envy, evil, hypocrisy, and others live, this is present as a counterweight and as a means of 'self-minder' for the owner of the body, in order to avoid all these actions, although its existence is certainly very human, there is a paradoxical side that is inserted into the symbol of the dragon in the body. Chinese culture, the dragon is the only imaginative creature found in the Chinese zodiac culture, the dragon is symbolically present on the one hand he appears as a symbol of strength and majesty, on the other hand he is present as a destroyer and horror.


Masyarakat Keraton percaya bahwa dunia dibagi menjadi tiga: Dunia atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah. Paksi Naga Liman merupakan simbol akan kekuatan dari tiga bagian kehidupan ini. 


Dunia Atas, disimbolkan oleh Paksi, yakni burung yang tempat hidupnya “di atas”, hal ini merupakan simbol dari kehidupan spiritual, kehidupan transenden yang identik dengan kondisi ilahiah dan keshalehan di wilayah makrifat, itulah juga sebabnya kenapa Paksi diambil dari kebudayaan Islam, karena kondisi Isra dan Mi’raj Muhammad SAW, merupakan kondisi makrifatullah yang puncak dari kerasulan beliau sehingga mencapai sidratul munthaha (langit ketujuh), simbol paksi (sayap, ekor, taji, dan cakar) yang terdapat pada Paksi Naga Liman, merupakan simbol Dunia Atas yang transenden, dunia pencapaian akan kedekatan dengan sang Khalik.


Sementara sosok Liman, merupakan simbol dari Dunia Tengah (middle-world), dunia materi, dunia fisik, atau dunia keseharian tempat berlangsungnya halhal duniawi yang bersifat ragawi, itu pula kenapa Dunia Tengah diidentikkan dengan kebudayaan Hinduisme yang memang segenap ajarannya merupakan ajaran ajaran yang membumi, ihwal perilaku manusia di dunia ini akan pentingnya kasih sayang, tepo saliro, cinta kasih, dan saling menghargai layaknya semua ajaran agama-agama bumi lainnya. Liman juga merupakan makhluk nyata (real), yang memang masih hidup sampai sekarang.


Naga merupakan simbol dari Dunia Bawah (under-world), tempat bermuaranya semua hal-hal yang identik dengan ‘sisi gelap’ manusia, atau sisi gelap kehidupan. Naga berada di wilayah spiritual juga layaknya Paksi, namun pada wilayah ‘darkness’, itulah kenapa sosok Naga selalu tampak menyeramkan, dengan mata melotot, taring terhunus, dan lidah menjulur serta tanduk yang tajam, hal ini simbol dari sisi gelap manusia, seperti dosa, kedengkian, kejahatan, kemunafikan, dan lainnya bermukim, hal ini hadir sebagai penyeimbang dan sebagai sarana ‘self-minder’ bagi si pemilik raga, agar menghindari semua perbuatan tersebut, meskipun eksistensinya tentu sangat manusiawi, ada sisi paradoks yang disisipkan akan simbol Naga tersebut pada kebudayaan Tiongkok, Naga merupakan satu-satunya makhluk imajinatif yang terdapat pada kebudayaan shio dari Tiongkok, Naga secara simbolik hadir di satu sisi dia tampil sebagai simbol kekuatan dan keagungan, di sisi lain dia hadir sebagai penghancur dan kengerian.

IDR 350,000,000